Chapter 3 (Tak Sengaja Berharap)

Andai aja, aku bisa mancing dia buat ngobrol lebih lama lagi bareng dia. Pasti sampai saat ini aku udah tau siapa nama dia, dan gak usah kepikiran terus kayak gini. Oya, emang sih yang ganteng itu lebih menarik, dan terkadang membuat rasa suka tercipta 100x lebih cepat. Tapi kan kalo cuma sekedar suka, apa salah?

Sejak kejadian itu, aku terus terbayang-bayang mukanya. Jika skala dari 1-100, aku berada dalam skala 95, ya meski aku tau kalau aku belum kenal dia secara baik. Tapi, aku ingin mengenalnya lebih jauh, karena jika hanya mengenal namanya sangatlah tidak cukup. Lalu, setelah itu, kita dapat bertukar pesan lewat media sosial, saling mem-follow Instagram, lalu senyum dan bertegur sapa setiap kali kita bertemu. Oh, sungguh indah itu semua bila terjadi.
Bila nanti, besok, atau pun lusa kita bertemu lagi, aku ingin melihat senyuman tulusmu untuk yang kedua kalinya. Senyumanmu adalah obat penenang hatiku, dikala rasa rindu ini sudah semakin dalam dan berat.
Ah, aigoo. Khayalan macam apa yang aku buat tadi itu? Karena aku yakin, pertemuan kita akan semakin sulit, karena aku tidak tau nama kamu siapa, kelas kamu dimana, tapi aku hanya tahu kalau aku harus menunggu kamu di kantin itu. Di kantin saat pertama kali mata kita bertemu dan senyuman manis itu dimulai.


Komentar